Nama : Raisya Kamila Azhar
NIM : 1901104010112
MK : Kewirausahaan Islam
Prodi : Ekonomi Islam
Dosen : Dr. Iskandarsyah Madjid
Review materi pembelajaran pertemuan ke-dua.
Sumber : Channel Youtube Iskandarsyah Madjid - Kewirausahaan Islam Day 2
Dapat di akses melalui link : https://www.youtube.com/watch?v=N54juZFjz14
(20:42) Dalam hidup ini kita sering melihat segala sesuatu berdasarkan persepsi yang tentunya bersifat subjektif. Munculnya persepsi ini bisa berasal dari banyak hal seperti culture, kebiasaan, atau pendapat orang lain.
(22:45) Namun, dalam urusan keagamaan dan hubungan kita sebagai manusia kepada Allah, tidak mengandalkan persepsi. Kita perlu menggunakan keimanan dan keyakinan yang Haqqul yaqin kepada Allah. Haqqul yaqin adalah tingkat keyakinan yang sebenar-benarnya meskipun belum ada bukti yang bisa dilihat. Contohnya keyakinan para sahabat RA kepada Rasulullah terkait peristiwa Isra; Mi'raj yang secara ilmu tidak masuk akal, namun para sahabat tetap mempercapainya dengan sempurna.
23:53 Selain Haqqul yaqin kita juga harus menerapkan sikap "sami’na wa ata’na" yang berarti "Kami dengar, dan kami ta'at" seperti yang tercantum dalam Q.S Al-Baqarah ayat 285. Maknanya adalah, kita harus mengerjakan segala sesuatu berdasarkan apa yang Allah perintahkan, bukan berdasarkan persepsi dan keinginan kita.
(27:24) Ada dua tugas manusia yang menjadi konsep dasar dalam kewirausahaan islam, yaitu :
1. Beribadah kepada Allah
Dalam Q.S Az-Zariyat, Allah berfirman :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
Yang artinya :
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melaikan agar mereka beribadah kepada-Ku.
Dari ayat diatas kita bisa menyimpulkan bahwa tugas kita hidup di dunia ini adalah untuk mencari keridhaan Allah, mengerjakan segala sesuatu yang Allah perintahkan, dan meninggalkan apa yang Allah larang.
Salah satu jalan untuk meraih ridha Allah tersebut adalah dengan berbakti kepada kedua orang tua. Sebab, seperti hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi yang mengatakan bahwa sesungguhnya ridha Allah itu tergantung kepada ridha orang tua dan murka Allah tergantung kepada murka orang tua.
(31:47) Apapun kegiatan yang kita kerjakan, nilainya dimata Allah akan tergantung kepada niat kita. Contoh sederhananya, ketika kita belajar karena mengharapkan nilai yang tinggi, maka nilai ibadahnya hanya sebatas itu saja. Namun ketika kita beljar dengan niat agar menjadi anak yang bisa membahagiakan dan membanggakan orang tua, maka kegiatan belajar yang kita lakukan itu akan bernilai ibadah yang lebih baik di sisi Allah.
Konsep ini harus menjadi pegangan kita dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam berbisnis. Kita harus senantiasa meminta ridha org tua serta ridha Allah. Sebab, kita tidak akan mempu mengerjakan segala sesuatu apapun tanpa pertolongan Allah.
Oleh karena itu, kita sebagai wirausahawan harus memiliki niat yang lurus sebelum memulai bisnis dan usaha. Dengan meluruskan niat demi mendapatkan ridha Allah, kita tidak akan menjalankan bisnis yang Allah larang, misalnya bisnis minuman keras, ataupun bisnis lainnya yang tidak dijalankan berdasarkan aturan syariat.
2. Menjadi khalifah di muka bumi.
Dalam Q.S Al-Baqarah ayat 30, Allah berfirman :
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Yang artinya :
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang Khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (Khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".
Ayat diatas menjelaskan mengapa Allah menciptakan manusia di muka bumi ini. Dan sesungguhnya Allah telah menjadikan kita manusia sebagai khalifah yang salah satu tugasnya adalah untuk mengelola alam dan bumi yang telah amanahkan ini.
(35:55) Allah sudah mengatur kehidupan dan alam secara seimbang. Namun ada manusia-manusia yang rakus yang malah merusak dan mengganggu tatanan alam.
Sesungguhnya sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain. Jadi, dalam sebagai wirausahawan niat kita dalam menjalankan bisnis bukan hanya utk mencari keuntungan semata, tetapi juga agar bisa menebarkan manfaat untuk orang lain. Dengan adanya pemahaman ini, akan mendorong kita sebagai wirausahawan untuk selalu menjalankan bisnis sesuai dengan ketetapan syariat yang telah Allah atur, misalnya dengan selalu menyajikan produk-produk yang baik dan halal saja.
(41:43) Dalam kewirausahaan islam tidak ada istilah persaingan dalam bisnis. Karena pada hakikatknya setiap manusia sudah Allah tentukan rezekinya, dan rezeki tersebut tidak akan tertukar dari satu orang ke orang lainnya. Sehingga kita sebagai pebisnis tidak perlu berfokus pada persaingan. Cukup fokus memperbaiki bisnis milik sendiri saja agar bisnis yang kita jalankan akan tetap berkembang dengan baik.
(46:21) Dalam Q.S Nuh ayat 11 sampai dengan 12, Allah berfirman :
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا . يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا . وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
Dari ayat diatas dapat kitalihat bahwa kita dituntun untuk senantiasa beristighfar an memohon ampunan kepada Allah, dan niscaya Allah akan memperbayak rezeki kita.
Namun disamping itu tentu saja kita tetap harus berikhiar untuk menjemput rezeki. Misalnya dengan cara berwirausaha. Sebab, ikhtiar kita ini juga merupakan bagian dari bentuk ibadah kepada Allah selama niatnya tepat yakni untuk mencari ridha Allah.
Jadi, 2 konsep dasar dalam kewirausahaan Islam ini bukanlah sesuatu yang kita lakukan berdasarkan persepsi, namun ranahnya adalah keyakinan kita kepada Allah. Yakin bahwa Allah akan memenuhi janji-janji Nya atas imbalan kita jika kita menjalankan apa yang diperintahkan-Nya.
(1:05:27) Pembahasan untuk pertemuan selajutnya ; Produk bisnis, cost production, cara produksi, dan strategi bisnis.







0 comments:
Post a Comment